Praktikum kimia kromatografi 1 ||Identifikasi asam amino dengan kromatografi kertas||

Tujuan
Setelah selesai mengerjakan praktikum ini diharapkan dapat:
Memahami prinsip-prinsip dasar dalam kromatografi kertas.
Mampu melakukan pemisahan campuran menjadi komponennya dengan kromatografi kertas.

Dasar Teori
Asam amino adalah senyawa organic yang memiliki gugus fungsional karboksil (-COOH) dan amina (NH2) yang sama (disebut C “alfa”). Gugus karboksil memberikan sifat asam dan gugus amina memberikan sifat basa. Dalam bentuk larutan asam amino bersifat amfoterik. Cenderung menjadi asam pada larutan basa dan menjadi basa pada larutan asam. Perilaku ini terjadi karena asam amino mampu menjadi zwitter ion. Asam amino termasuk golongan senyawa yang paling banyak dipelajari karena salah satu fungsinya sangat penting dalam organisme yaitu sebagai penyusun protein.
Struktur asam amino secara umum adalah satu atom C yang mengikat empat gugus: gugus amina (NH2), gugus karboksil (-COOH), atom hydrogen (H) dan satu gugus sisa (R dari residue) atau disebut juga gugus atau rantai samping yang membedakan satu asam amino dengan asam amino lainnya. Atom C pusat tersebut dinamai atom C alfa sesuai dengan penamaan senyawa bergugus karboksil yaitu atom C yang berikatan langsung dengan gugus karboksil. Oleh karena gugus amina juga terikat pada atom C alfa ini senyawa tersebut merupakan asam alfa amino. Asam amino biasanya diklasifikasikan berdasarkan sifat kimia rantai samping tersebut menjadi empat kelompok. Rantai samping dapat membuat asam amino bersifat asam lemah, basa lemah, hidrofilik jika polar dan hidrofobik jika non polar.

Alat
  1. Corong
  2. Gelas beker 400 mL
  3. Kapas
  4. Gelas ukur
  5. Kromatografi kertas (kertas saring)

Bahan
  1. Telur
  2. Butanol
  3. Asam asetat glasial
  4. Akuades
  5. Penyemprot ninhidrin (0,5 % larutan ninhidrin dalam butanol)
  6. Standar glisin
  7. 0,01 M larutan asam amino dalam propanol

Skema Kerja
  1. Mengambil putih telur ayam.
  2. Sebelum penanganan dengan metode kromatografi kertas sebaikknya gunakan sarung tangan untuk menghindari kontaminasi asam amino yang berasal dari keringat di permukaan kulit.
  3. Menyiapkan pelarut pengembang atau fasa gerak dengan komposisi 24 mL butanol, 5 mL asam asetat glasial dan 10 mL akuades.
  4. Masukkan fasa gerak ke dalam beker gelas.
  5. Potong kertas saring 4x10 cm dan totolkan sampel dan standar glisin.
  6. Tentukan Rf dari sampel dan standar.

Pengamatan
Sampel dan standar tidak dapat terelusi/naik secara sempurna karena pelarutnya tidak sesuai.

Pembahasan
Asam amino adalah asam karboksilat yang mempunyai gugus amino yang terdapat sebagai komponen protein yang mempunyai gugus –NH2 pada atom karbon alpha dari posisi gugus –COOH. struktur asam amino adalahsebagai berikut :


Dari rumus umum tersebut dapat dilihat bahwa atom karbon alpha ialah atom karbon asimetrik, kecuali bila R adalah atom H. Oleh karena itu asam amino juga memiliki sifat memutar bidang cahaya terpolarisasi atau aktifitas optic. Oleh karena itu atom karbon itu asimetrik maka molekul asam amino mempunyai dua konfigurasi D dan L. hal ini dapat dibandingkan dengan konfigurasi molekul monosakarida.
Standar asam amino yang dipakai adalah glisin. Glisin atau asam aminoetanoat adalah asam amino alami paling sederhana. Rumus kimianya C2H5NO2. Asam amino ini bagi manusia bukan merupakan asam amino esensial karena tubuh manusia dapat mencukupi kebutuhannya. Glisin merupakan satu-satunya asm amino yang tidak memiliki isomeric optic karena gugus residu yang terikat pada atom karbon alpha adalah atom hydrogen. Sehingga terjadi simetri. Glisin merupakan asam amino yang mudah menyesuaikan diri dengan berbagai situasi karena strukturnya sederhana. Penggantian glisin dengan asam amino lain akan merusak struktur dan membuat protein tidak berfungsi dengan normal. Tubuh manusia memproduksi glisin dalam jumlah mencukupi. Glisin berperan dalam sistem saraf sebagai inhibitor neurotransmitter sistem saraf pusat (CNS).
Pada umumnya asam amino larut dalam air dan tidak larut dalam pelarut organic non polar seperti eter, aseton dan kloroform. Sifat asam amino ini berbeda dengan asam karboksilat maupun dengan sifat amina. Asam karboksilat alifatik maupun aromatic yang terdiri atas beberapa atom karbon umumnya kurang larut dalam air tetapi larut dalam pelarut organic. Demikian pula amina pada umumnya tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organic.
Prinsip dari percobaan pemisahan asam amino secara kromatografi menggunakan kertas yang fase geraknya dengan menggunakan eluen asam asetat glasial. Identifikasi dilakukan dengan membandingkan jarak noda yang dihasilka setelah penyemprotan dengan ninhidrin. Dan setelah itu membandingkan nilai Rf dari standard dan sampel.
Cara melakukan pemisahan dengan kromatografi ini cukup sederhana. Campuran atau sampel putih telur ayam ras diteteskan sedikit demi sedikit pada kertas kromatografi (kertas saring) pada titik tertentu dan standar glisin juga diteteskan sedikit demi sedikit pada kertas saring yang sama tetapi pada titik tertentu. Kemudian ujung kertas saring dicelupkan kedalam pelarut asam asetat glasial. Pelarut ini akan naik berdasarkan proses kapilaritas dan akan membawa senyawa-senyawa dalam sampel tersebut.  Setelah pelarut mencapai bagian atas atau garis akhir, kertas diangkat dari pelarut kemudian dibiarkan kering dengan sendirinya di udara. Dengan proses ini asam-asam amino akan terpisah satu dengan yang lainnya. Tetapi pada percobaan kali ini noda-noda dari hasil elusi tidak terlihat kemungkinan tidak terlihat oleh kasat mata sehingga perlu digunakan sinar uv untuk melihatnya. Hasil yang didapat tetap negative, spot-spot noda tidak terlihat. Alternative selanjutnya dengan penyemprotan pereaksi ninhidrin pada kertas kromatografi tersebut dan dilihat lagi dengan sinar uv tetapi spot noda masih juga belum teerlihat. Jadi dapat disimpulkan bahwa spot noda tidak terbentuk karena eluen tidak membawa senyawa-senyawa asam amino. Karena spot noda tidak terbentuk maka Rf tidak dapat diketahui sehingga Rf=0.
Percobaan kali ini dinyatakan gagal karena tujuan yang dicari adalah menentukan harga Rf. Hal ini dapat terjadi karena adanya beberapa kemungkinan. Kemungkinan pertama karena asam amino belum terpecah sehingga pelarut tidak dapat menarik asam amino karena adanya zat lain yang terdapat dalam sampel. Pemisahan asam amino dengan hidrolisis. Asam amino dalam telur ayam ras dihidrolisis menggunakan asam sulfat pekat.
Kemungkinan kedua karena pelarut atau fase gerak yang digunakan tidak cocok. Menurut literature fase gerak merupakan campuran dari beberapa zat atau larutan-larutaan tertentu dengan kepolaran yang berbeda-beda, fungsinya adalah agar fase gerak dapat membawa jenis-jenis senyawa yang terkandung di dalam sampel yang sejenis dengan kepolaran eluen. Campuran pelarut atau eluen menurut literature adalah n-butanol, asam asetat glasial dan air dengan perbandingan 8:2:8.
Jika dibandingkan dengan harga Rf asam amino standar yakni standar glisin adalah Rf=0,26, sedangkan Rf dari hasil percobaan adalah 0. Harga Rf dipengaruhi oleh eluen.

Kesimpulan
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa prinsip dasar kromatografi kertas adalah pemisahan asam amino dengn menggunakan kertas saring yang fase geraknyaasam asetat glasial. Setelah itu ditentukan harga Rf dari jarak noda yang dihasilkan.
Percobaan kali ini dinyatakan gagal karena harga Rf tidak dapat ditentukan atau Rf=0 sedangkan Rf standar glisin= 0,26.

Daftar Pustaka
Day, RA., Junior dan A.L. Underwood, 2006, Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Keenam, Jakarta, Erlangga.

Khopkar, S.M., 1990, Konsep Dasar Kimia Analitik, UI Pres, Jakarta.

0 Response to "Praktikum kimia kromatografi 1 ||Identifikasi asam amino dengan kromatografi kertas||"

Post a Comment